Friday, 1 June 2018

Houston still rebuilding from 2017 floods as new hurricane season arrives

Houston still rebuilding from 2017 floods as new hurricane season arrives

HOUSTON (Reuters) - In an empty lot where Vincent Shields' Houston home once stood, he points out properties whose owners were driven out after Hurricane Harvey inundated the region last summer.

Mandatory evacuation ordered as Hawaii eruption hits four-week mark

HONOLULU (Reuters) - The Hawaii community hardest hit by the Kilauea Volcano was ordered sealed off under a strict new mandatory evacuation on Thursday as the eruption marked its fourth week with no end in sight.

Trump pardons Dinesh D'Souza, says lifestyle maven Stewart may be next

WASHINGTON (Reuters) - President Donald Trump on Thursday pardoned a conservative commentator and said he was considering pardoning lifestyle maven Martha Stewart and commuting a former Illinois governor's prison sentence, prompting critics to accuse him of subverting the rule of law.

Texas boy spells 'koinonia' correctly, wins Scripps National Spelling Bee

OXON HILL, Md. (Reuters) - Karthik Nemmani of McKinney, Texas, won the 91st Scripps National Spelling Bee on Thursday, taking home a $40,000 cash prize after beating the same speller who defeated him at his countywide bee in February.

Leading oncology group wary of Trump drug price proposals

CHICAGO (Reuters) - America's leading group of cancer doctors is wary of new Trump administration proposals for lowering drug costs, warning that patients must not be barred from medicines that could help them.

Boeing workers vote for 'micro-union' at South Carolina plant

NORTH CHARLESTON, S.C. (Reuters) - A small group of workers at Boeing Co's South Carolina jetliner factory voted Thursday to unionize but the planemaker announced it would challenge the legality of the bargaining unit.

Mueller probe spent $4.5 million from October to March: Justice Department

WASHINGTON (Reuters) - U.S. Special Counsel Robert Mueller's team investigating suspected Russian interference in the 2016 U.S. election spent $4.5 million between October last year and March 2018, the Department of Justice said on Thursday.

Judge declares mistrial in former New York local official's bribery case

NEW YORK (Reuters) - A judge on Thursday declared a mistrial in the case of a former New York town official accused of taking bribes, after a jury failed to reach a verdict following nine days of deliberations, according to a spokesman for prosecutors.

Utah sues opioid maker Purdue Pharma after settlement talks stall

(Reuters) - Utah's attorney general on Thursday sued OxyContin maker Purdue Pharma LP to hold it responsible for its role in the opioid epidemic after he said talks to reach a settlement between various states and the drugmaker stopped being productive.

Two dead in North Carolina landslide as Alberto no longer a storm

(Reuters) - Two people were killed after floods triggered a landslide in North Carolina, as Alberto was downgraded to a post-tropical cyclone with diminished rainfall by the U.S. National Hurricane Center (NHC) on Thursday.

Related Videos

Spanish Prime Minister Rajoy booted out of office

North Korea envoy to deliver letter to Trump from Kim

You might like...

Check out our Reuters News Now daily briefing for hand-picked stories from Reuters editors. It's all the news you need to start your day.

Subscribe here

KENAPA AKU MEMBELA JOKOWI.

KENAPA AKU MEMBELA JOKOWI..

"Kenapa kamu selalu membela Jokowi ?"

Begitu pertanyaan dari sekian ratus pesan yang baru kubuka pelan-pelan. Satu pertanyaan yang membutuhkan seribu jawaban. Tidak cukup halaman jika harus membahas satu persatu apa yang sudah ia lakukan..

Tapi cukuplah saudaraku di Papua yang menjawabnya...

Ketika aku berkunjung ke sebuah desa di Papua, aku menemui satu keluarga disana. Kala itu matahari mulai terbenam, dan satu persatu lampu di rumah-rumah mulai dihidupkan..

"Listrik baru masuk di desa kami dua tahun lalu.." kata sang bapak sambil mengunyah sirih di mulutnya. "Dulu disini gelap gulita. Bahkan saya tidak bisa melihat orang yang duduk di sebelah mengobrol dengan saya.."

Sang bapak tertawa getir mengingat masa dimana selama berpuluh tahun Indonesia merdeka, ia baru merasakan arti kemerdekaan yang sebenarnya. Baru merasakan..

"Anak-anak kami dulu belajar pakai pelita..
Mata mereka pedih kena asap. Semua kegiatan berhenti, karena tidak ada cahaya lagi. Kehidupan mati. Kami baru bisa bekerja ketika ada matahari. Bapak bisa bayangkan ini ?" Tanyanya sambil tersenyum penuh arti.

Tentu aku tidak bisa membayangkannya. Aku yang sejak kecil selalu menikmati gemerlapnya cahaya dan tidak pernah merasakan situasi dalam keadaan gelap gulita. Mati lampu memang pernah kurasakan, tapi selalu ada sudut terang yang bisa kuandalkan.

"Bapak tahu bagaimana jalan menuju kesini dulu ? Truk-truk tenggelam dalam lumpur setengah badan. Mereka berhari-hari menginap di hutan. Mereka rela begitu, kalau tidak kami bisa mati kelaparan karena tidak ada bahan..

Kalau kami sakit, lebih pedih lagi. Harus berjalan berhari-hari untuk sampai ke puskesmas saja. Kalau sedang hujan, kami lebih terasing lagi. Tidak bisa keluar desa, juga tidak ada yang bisa kesini. Kami pasrah, mau teriak harus teriak pada siapa ?

Kami merasa bukan bagian dari negeri ini. Jadi wajar kalau banyak dari kami minta merdeka. Setiap anak yang lahir kami selalu tanamkan ke mereka, "kamu anak Papua, bukan anak Indonesia.."

Ah, sebuah pengakuan yang jujur yang datang dari seorang pejuang. Kini jalan menuju desanya sudah di aspal. Truk yang mengantar bahan makanan lebih cepat datang. Harganya pun jauh lebih murah karena harga bensin sudah sama dengan di Jawa.

Listrik sudah pakai tenaga surya. Meski masih terbatas, sudah sangat cukuplah. Desa menjadi terang, kehidupan disana pun berkembang..

"Bapak Jokowi itu bapak kami. Kalau bukan dia jadi Presiden, entah bagaimana nasib kami. Sekarang Papua sudah bukan anak tiri. Kami putra Indonesia lagi.." Senyum sang bapak merekah memperlihatkan giginya yang memerah.

Cukup satu peristiwa yang meruntuhkan kesombongan diri. Aku bukan apa-apa dibandingkan masyarakat Papua. Yang tidak pernah ribut dengan semua kesenjangan yang ada. Mereka menjalani hidup dengan apa adanya, sampai pemimpin yang mereka harapkan datang menyapa..

"Kenapa kamu selalu membela Jokowi ?"

Pertanyaan itu muncul lagi. Dan aku menyeruput secangkir kopi yang menunggu untuk dinikmati.

Aku mulai mengetik kalimat, menyampaikan apa yang selama ini aku pikirkan..

"Karena hanya dia yang mampu menerapkan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tanpa Jokowi, Papua pasti akan terus minta merdeka.

Itulah kenapa aku selalu membela dia. Karena membela dia, berarti membela saudara-saudaraku di Papua.."

Rasanya secangkir kopi ini nikmat sekali. Entah kapan aku kesana lagi...

Denny Siregar

FOX NEWS FIRST: Samantha Bee wants to move on from her 'one bad word'; Kim's letter to Trump; Buzz for Holder 2020

Kisah Nyata Jokowi dan karyawan di kantor Walikota Solo

*ONE DAY IN YOUR HEART*

Di suatu pagi, seorang Walikota sedang menyapu sendiri ruang kantornya.
Ini dilakukan karena tukang sapu yg biasa mengerjakannya belum hadir. 

Tidak lama tukang sapu itu datang tergopoh2, wajahnya pucat, terbayang di benaknya sang Walikota akan marah dan memecatnya.

Namun dengan santai Walikota menanyakan alasan kenapa tukang sapu terlambat. 

Si tukang sapu berkata kalau anaknya sudah 5 hari ini sakit. 
Sang Walikota memberikan peralatan kerja dan tukang sapu itu pun melanjutkan pekerjaan menyapu yg tadi sempat dilakukan Pak Wali. 

Pak Walikota langsung memanggil ajudan beserta sopirnya. 
Tanpa diketahui tukang sapu, mereka pergi menuju ke rumah si Tukang Sapu untuk melihat anaknya yg dikabarkan sakit. 

Pak Wali membopong anak itu ke mobil. Dengan ditemani supir mereka berdua langsung pergi ke Rumah Sakit sementara sang ajudan diperintahkan untuk kembali ke balaikota untuk menyampaikan ke tukang sapu kalau anaknya dibawa ke rumah sakit supaya nanti tidak kebingungan mencari.

Di Rumah Sakit, semua berjalan biasa, justru di Balaikota lah terjadi kehebohan. 
Sang ajudan yang memberi kabar pada tukang sapu harus kerepotan membopong tukang sapu karena pingsan mendengar sang Walikota sendiri yg membopong anaknya ke rmh sakit.

Tahu kah anda?
Kapan kejadiannya?
Di mana?
Siapa walikota nya?

*Jawabannya* :
Mungkin Sekitar th 2008
Di Solo 
Walikotanya :
Ir Joko Widodo